Category Archives: Kesehatan

Mengapa Kasus Corona Indonesia Belum Mencapai Puncak

Mengapa Kasus Corona Indonesia Belum Mencapai Puncak – Gelombang pertama penyebaran virus corona tidak menunjukkan akhir. Penyebabnya karena masyarakat kurang disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan serta akibat dari relaksasi pembatasan sosial yang terlalu dini, kata peneliti dari Institut Teknologi Bandung.

Peningkatan kasus tersebut menurut Pengurus Pusat Perhimpunan Manajer Pelayanan Kesehatan Indonesia menyebabkan rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas, dari ambang batas maksimal 65% menjadi kini mencapai 85%.

Kurang taatnya masyarakat menjalankan protokol kesehatan disebabkan empat hal yaitu, keterbatasan pengetahuan, tidak ada pengalaman dan pengelihatan, serta penyebaran berita bohong, kata pengamat sosial dari Universitas Indonesia kunjungi news.yahoo.com.

Pemerintah bertindak cepat dengan mengerahkan pemerintah daerah untuk memberikan hukuman tegas kepada masyarakat yang melanggar, mulai dari sanksi teguran, administratif hingga sosial yang tercantum dalam peraturan kepala daerah (perkada).

Satgas gabungan memberi hukuman push-up kepada warga yang tidak memakai masker di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (16/09).

Sejak diumumkan pertama kali kasus virus corona di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada Maret lalu, penyebaran kasus virus corona tidak menunjukkan penurunan hingga kini.

Bahkan, Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini, belum bisa melihat kapan puncak dan ujung dari penyebaran gelombang pertama.

“Nilai reproduksi harian masih di atas satu, tingkat okupasi rumah sakit tinggi, dan belum ada penurunan kasus dua minggu berturut-turut. Sekarang asupan data sudah tiga ribuan per hari dan jika semakin besar maka akan semakin lama puncaknya,” kata Nuning kepada wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau, Rabu (16/09).

Tingkat penyebaran yang masih tinggi disebabkan kontak yang masif dan jumlah penduduk yang besar.

“Masyarakat kurang disiplin, ditambah lagi, masih dalam intervensi mitigasi dan kasus naik tapi relaksasi pembatasan sosial sudah dilakukan,” katanya.

Berdasarkan data dari Pusat Eropa Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (European Centre for Disease Prevention and Control), Indonesia merupakan salah satu negara bersama dengan Argentina, Irak dan Ukraina yang terus mengalami peningkatan kasus per hari sejak dari akhir Februari hingga 13 September lalu.

Kesadaran kolektif menegakan protokol kesehatan

Kesadaran kolektif menegakan protokol kesehatan – Penambahan kasus akibat ketidakpatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan berdampak langsung pada peningkatan okupansi rumah sakit (RS).

“Kapasitas 65% saja sudah warning, tapi sekarang sudah 85% overcapacity yang berdampak pada mutu layanan,” kata pengurus Pusat Perhimpunan Manajer Pelayanan Kesehatan Indonesia (Permapkin) Hermawan Saputra.

Hermawan menyebut, di Indonesia terdapat sekitar 3.000 RS yang mana sekitar 1.000 berada di Jabodetabek, atau 2.000 RS ada di Pulau Jawa.

Tingkat okupansi merujuk pada fasilitas seperti ruang isolasi dan ruang ICU (Intensive Care Unit) di sebuah rumah sakit yang merawat pasien corona dengan gejala sedang hingga berat kunjungi msn.com.

Selain kelebihan kapasitas, menurut data Ikatan Dokter Indonesia, 115 dokter meninggal dunia akibat pandemi Covid-19.

Peneliti ITB Nuning, pengurus Permapkin Hermawan, dan pengamat Devie berpendapat, solusi atas penambahan kasus berujung pada satu kesimpulan yaitu pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dari level keluarga untuk mengubah perilaku.

“Cuma satu yaitu laksanakan protokol kesehatan yang sangat ketat dengan mengubah perilaku di mulai dari satuan terkecil yaitu keluarga karena menunggu vaksi butuh waktu panjang dan tidak bisa masif,” kata Nuning.

“Solusinya adalah community-based fighting initiative, atau perang akar rumput melawan Covid. Contoh, kalau mulai dari keluarga, RT, dan kampung ada kesadaran kolektif menegakan protokol kesehatan dan menyediakan tempat isolasi mandiri, tidak ada stigmatisasi, kebutuhan pokok dipenuhi, menjaga kebersihan bersama maka akan sangat terminimalisir kematian dan pasien di RS,” kata Hermawan.

“Pertama adalah sosialisasi tiada henti dan tidak pernah bosan. Kedua, edukasi tokoh publik, karena karakter masyarakat patron-klien, untuk memberikan info benar dan positif kepada pengikutnya. Ketiga, demonstrasi simbolik seperti menunjukan peti, baju APD, dll di tempat umum untuk meningkatkan sense of crisis yang telah memudar, dan terakhir adalah terus melakukan isolasi bagi yang positif,” kata Devie.

Gejala Baru Virus Corona Sulit Berbicara, Halusinasi

Gejala Baru Virus Corona Sulit Berbicara, Halusinasi – Pakar Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) memperingatkan mengenai gejala baru virus corona yang muncul yakni kesulitan berbicara dan halusinasi. Sebelumnya, gejala-gejala umum yang muncul pada orang yang terinfeksi virus corona yakni demam, sesak napas, batuk, flu, dan dapat juga tidak tampak gejala.

WHO telah menyatakan bahwa kesulitan berbicara dan kurangnya gerakan juga dapat menjadi gejala virus corona.

“Sebagian besar orang yang terinfeksi virus Covid-19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus,” ujar pakar WHO.

Sementara itu, WHO juga menjelaskan bahwa gejala serius dari terinfeksi virus corona yakni kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri atau tekanan di dada, dan kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak kunjungi pinterest.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa kesulitan dalam berbicara juga bisa menjadi tanda dampak virus corona dan pada kesehatan mental. Peneliti di Orygen dan La Trobe University di Melbourne melaporkan, beberapa pasien telah mengalami episode psikotik sebagai akibat dari virus corona.

Dr Ellie Brown, penulis utama studi ini, menggambarkan Covid-19 sebagai pengalaman yang membuat stres bagi semua orang terutama mereka yang memiliki kebutuhan kompleks.

Menurutnya, menghabiskan waktu yang lama dalam isolasi atau tanpa kontak keluarga dapat memicu tekanan psikososial yang substansial, yang menyebabkan episode psikosis.

India Resmi Larang Peredaran Rokok Elektrik

India Resmi Larang Peredaran Rokok Elektrik – Sebagai pasar kedua terbesar untuk industry rokok, India termasuk salah satu negara pertama yang resmi melarang keberadaan rokok elektrik. Kini negara melarang adanya penjualan, impor, penyiaran iklan, dan produksi rokok listrik.

Apa hukumannya? Hukuman pertamanya hingga satu tahun penjara dan denda Rp 19,6 juta. Bagi yang melanggar lebih dari sekali, maka dinaikkan potensinya hingga tiga tahun penjara dan denda Rp 98 juta. Tampaknya masih legal untuk menggunakan rokok elektrik namun sulitnya akses untuk produk itu di dalam negeri membuatnya hampir tidak memungkinkan.

Pihak Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga mengatakan bahwa ada tren penggunaan rokok elektrik yang meningkat tajam akhir-akhir ini. Keputusan yag mereka lakukan adalah untuk mencegah kecanduan terhadap rokok elektrik, terutama karena “dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok biasa namun pemikiran mengenai keamanan tersebut salah kunjungi nbcnews.com.”

Menghasikan sesuatu yang berguna untuk para pasien covid 19

Menghasikan sesuatu yang berguna untuk para pasien covid 19 – Melalui media sosialnya, dr. Indrinti melalui menceritakan sang ayah sembuh dari virus Covid-19 menggunakan minyak kayu putih.

Dalam tulisannya itu, dia menegaskan bahwa terapi tersebut masih dalam proses penelitian dan belum bisa dikatakan sebagai obat Covid-19.

Karena tulisannya viral di berbagai media, banyak oknum yang mengubah tulisannya tersebut. Salah satunya adalah pesan berantai (broadcast) yang beredar di WhatsApp.

Dikonfirmasi tribun-timur.com, Selasa (9/6/2020), dr. Eche sapaan akrabnya mengatakan bahwa broadcast tersebut bukan tulisannya. Dia mengatakan bahwa tulisannya banyak diubah dikutip cnbc.com.

Dan ketika kita melakukan pertemuan melalui Zoom dgn anggota tim Peneliti dan diketuai oleh Prof Elly dari farmasi (dekan fakultas Farmasi), maka kami mendapatkan lagi tambahan beberapa jurnal pendukung bahwa eucalyptus bisa bertindak sebagai anti virus

Untuk metode pemberian kami masih pelajari untuk dosis pemberian, jadi sebaiknya tulisan ini dijadikan sekadar pengetahuan saja. Nah , penelitian kami pun berjalan sejak itu.

Tim kami ini adalah gabungan para dosen Unhas para Ahli Herbal , Ahli Farmasi, ahli Biologi Molekular , Dokter phD yang sedang ada di Makassar, Inggris, Jepang dan Korea.

Semoga dengan penelitian ini bisa menghasikan sesuatu yang berguna untuk para psien covid 19, tutu dr. Idrianti.